Skip to main content

AKU dimataku

Aku rapuh

AKu tetap menulis walau ku tahu aku rapuh

Aku mencoba sekuat tenaga tetap tersenyum walau aku rapuh

Aku mencoba sekuat tenaga tetap tertawa walau aku rapuh

KOSONG.

Aku mencoba untuk mengisi ruang kosong dalam diri

Namun teramat sulit bahkan begitu tertolakkan

Aku ingin lari

Namun hanya menambah kenaifan dan kemunafikan diri

Aku ingin menangis

Namun aku terlalu sulit untuk mengeluarkan air mata

Aku ingin memekikkan kata-kata kotor

Namun aku sudah terlalu kotor

Aku ingin diam

Namun terlalu sulit untuk menutup mulut

Aku ingin NORMAL

Namun aku sudah terlanjur jatuh kedalam jurang ketidaknormalan

Aku ingin mati

Jika aku mati, mungkin mereka akan tersenyum lega

Tidak. Tidak mungkin mereka hanya tersenyum lega

Mereka akan tertawa dan amat bahagia

Tepuk riuh yang akan mengiring kematianku bukan tangis histeris mereka

Aku rapuh

Aku butuh tepukan dipundakku yang terasa lunglai dan tak bertulang ini

AKu butuh senyum tulus untuk menguatkanku

Aku butuh ASAP.

Comments

Popular posts from this blog

Detoks digital seharian [family eksperimental]

Hallo Semuanya! Assalamualaikum. Kali ini aku mau cerita mengenai social experimentalku kemarin.  Kemarin aku dan suamiku melakukan digital detox,  sebenernya itu dilakukan secara spontan aja sih karena ya memang lagi feeling good aja, tapi ternyata efeknya cukup positif menurutku.  Digital  detox   yang aku jalani kemarin sebenernya cuma seharian dan bersifat uji coba aja dan sebenernya ga sepenuhnya digital detox sih karena aku dan anakku masih nonton kartun which is dari media digital, Televisi.  Mungkin lebih tepatnya dibilang Gadget Detox kali ya! A day without internet, of course aku ga tau perkembangan di dunia ya walaupun hanya short time tapi jujur aku merasa tenang dan bahagia walaupun di satu sisi aku sempat kepikrian kalau-kalau ada pesan atau berita penting dari orang-orang terdekatku yang biasanya terhubung lewat social media, yang biasanya jariku sampai pegel karena selalu scroll timeline demi memantau perkebangan sosial, kemarin, jariku beba...

i could never sign a title

ketika otakku mencoba merangkai sebuah kronologis suatu kejadian yang telah terjadi. ketika itu pula aku menjadi seseorang yang tidak aku kenali melebihi diriku sendiri. aku hilang kendali ketika aku terngiang kembali kejadian yang tak ku ingini. kenangan merupakan hal yang indah yang harus disimpan dan ketika tiba waktunya kenangan itu muncul, akan menjadi hal yang manis untuk diingat. aku tidak. aku tak menyalahkan keadaan, namun sekali lagia aku terdiam ketika hal yang tak kusenangi terngiang- kenangan. kucoba menyimpulkan, bahwa semua yang terjadi tak pernah sesuai dengan apa yang aku ekspektasikan. itulah hidup, hidup adalah apapun yang terjadi diluar ekspektasi manusia, dan seketika, aku menerima apapun yang terjadi diluar ekspektasiku. aku menang.